Terinspirasi dari
Kalau sekedar hidup, babi di hutan juga bisa hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja (Buya Hamka)
-via Faldo Maldini
#Lesson :”“ What have you done ? #selftalk
(via rmlicious18)
(via ayojadilebihbaik)
memang, jodoh itu tidak akan kemana, tidak akan lari. cuman berapa besar perjuangan yang dilakukan biar tidak lari..??? itu berat loh….
Iya, ini untuk kalian, para pria.
- Tia Setiawati Priatna
(via karenapuisiituindah)
(via isqimokta)
Rusaknya masyarakat bisa disebabkan oleh penyakit “frustasi intelektual”. Gejala frustasi ini setidaknya ada dua: Pertama, kaum intelektual tak mampu mempertahankan prinsip. Kedua, pasrah terhadap realitas yang ada. Gejala ini dapat menimbulkan dua sikap ekstrem. Sikap ekstrem yang pertama adalah perselingkuhan intelektual dengan pemilik modal dan kekuasaan. Sikap ekstrem kedua adalah apatisme terhadap persoalan masyarakat.
Bagi intelektual apatis, atas nama objektivitas ilmu dan keilmiahan, ia tak tertarik untuk melakukan pemihakan. Ia enggan berpeluh. Sikapnya pasif, baik acuh ataupun hanya menunggu perubahan. Saat ada permasalahan sosial di masyarakat, ia tak bersuara, tak mendukung ataupun menentang, tetapi ia diam saja.
Bagi intelektual apatis, atas nama netralitas, ia tak tertarik untuk melakukan aksi-massa, entah berupa demonstrasi atau aksi sosial lainnya untuk mengkritik pemerintah yang zalim. Kekhawatiran ditunggangi yang berlebihan membuatnya diam seribu bahasa. Ia anggap orang yang mengkritik sama dengan keledai yang mudah saja untuk ditunggangi segelintir orang. Sikap pasif ini tanpa disadari justru akan membinasakan orang banyak.
Al-Qur’an seolah menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya Intelektual berperan dalam masyarakat. Para rasul pun diutus oleh Allah dengan misi perubahan sosial. Rasul adalah intelektual sempurna. “Dialah yang mengutus seorang rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya mereka benar benar dalam kesesatan yang nyata” (QS Al-Jumuah: 2). Sebagaimana ayat di atas, intelektual memang tak boleh hanya tinggal di menara gading, berteori canggih, tetapi jauh dari masyarakat.
sekarang pertanyaannya, akankah menjadi intelektual apatis yang dzalim, atau intelektual yang berguna..??
-dikutip sepenuhnya dari catatan FB “Intelektual dalam Masyarakat” karya Fajar Cipta Yudha Perkasa
banyak hikmah dengan ditundanya KP.. salah satunya adalah masih bisa menghandle langsung tanggung jawab senator ketika hectic menjelang audiensi kabinet, MWA-WM dan Tim Beasiswa. belum lagi penyusunan KPI
ah, Allah memang maha tahu dan maha bijaksana… Terimakasih ya Allah telah menjadikan segala hikmah dibalik setiap kejadian
selama 3 tahun ngajar nyambi sebagai mahasiswa, banyak sekali perbedaan yang saya rasakan ketika murid yang dibina juga berbeda. selama 3 tahun alhamdulillah saya sudah pernah merasakan bedanya ngajar anak SD, anak SMP, anak SMA. pernah juga ngajar anak olimpiade (biologi tentunya), persiapan SNMPTN dan sejenisnya serta bimbel biasa.
ada perbedaan drastis tentang kenyamanan dan semangat mengajar ketika ngajar olim, SNMPTN dan bimbel biasa. ya, kalau ditanya manakah yang lebih memicu semangat saya dalam mengajar? jujur saya akan jawab, mengajar SNMPTN jauh memicu dan memberi kenyamanan lebih buat saya. saya tidak mementingkan berapa honor yang diterima. jujur saja, kalo mememntingkan honor, saya ga bakal mau ngajar cuma2. namun, saya anggap bahwa mengajar sudah menjadi bagian dari hidup saya. tak masalah mau itu gratis mau itu dibayar, toh yang saya cari adalah kepuasan dan kebermanfaatan akan ilmu yang saya miliki.
mengapa saya lebih semangat dan nyaman ketika mengajar persiapan SNMPTN? yang saya rasakan, ada semangat yang jauh lebih tinggi yang dimiliki oleh anak2 yang akan mengikuti SNMPTN. ada “ketamakan” lebih dari mereka akan ilmu yang harus mereka cari. “ketamakan” ilmu inilah yang menjadikan mereka lebih semangat, lebih kreatif dan lebih menghargai akan pentingnya ilmu yang dibawa oleh seorang guru atau tutor. terlepas dari apa tujuannya untuk belajar, semangat mereka sangat mempengaruhi dari semangat saya untuk mengajar.
apakah anak2 olimp tidak punya semangat? apakah anak2 yang ikut bimbel tambahan tidak punya semangat? oh jelas mereka punya semangat. namun intensitasnya akan berbeda. “ketamakan” mereka akan ilmu berbeda. inilah nilai plus yang didapat ketika saya ngajar SNMPTN.
maka, sudah selayaknya setiap pelajar memiliki “ketamakan” akan ilmu. inilah salah satu dari 6 syarat yang dijelaskan oleh Ali bin Abi Thalib R.A. tentang syarat memperoleh ilmu.
“saudaraku, sesungguhnya engkau tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan 6 syarat. akan aku jelaskan sejelas-jelasnya sehingga engkau mengerti. keenam syarat itu adalah : CERDAS, TAMAK, BERSUNGGUH-SUNGGUH, PUNYA BEKAL, PANJANG WAKTU, PATUH PADA GURU”
- Ali Bin Abi Thalib R.A.
Source: likeastartcodonketika yang lain sudah mulai KP, saya masih mendekam di bandung dengan segala aktivitasnya…. hahahaha…
mudah2an kontingen MTQ mahasiswa nasional 13 dari ITB juara umum, amin
- irfan, 10410027