Secara etimologi, sekolah/school berasal dari kata skhole, artinya mengisi waktu luang

Kok sekarang ini sekolah kayak ga cuman mengisi waktu luang? Kok kayak emang kerjaan anak2 sekolahan ya sekolah. Sampe stress, terbebani dengan tugas2 dan pelajaran segala macam.

menjemput

hanya satu kata kerja, hanya satu makna, tapi jika dikonotasikan dengan sesuatu yang besar, terutama sebuah tujuan, aku kira ini bukan kata yang bisa dianggap remeh. toh aku juga sadar, pada akhirnya kata inilah yang menjadi tujuan besarku.

bukan suatu tujuan besar jika tidak ada rintangan besar juga. aku sadar, jalan berliku lebih aku nikmati daripada jalan yang landai. lagipula sejak kecil hidupku cukup untuk dikatakan berliku.

akan tetapi aku belum tau apakah aku bisa survive di jalan berliku yang sekarang. entah kenapa, saat ini jalan berliku yang aku tempuh untuk menjemput terasa jauh lebih berat dibanding jalan berliku yang sebelum-sebelumnya. entah karena aku yang terlalu menganggap remeh semuanya, entah karena memang ini desain Tuhanku agar aku lebih banyak bersyukur dan bersabar.

aku harap ini menjadi peningkat imanku kepada Tuhanku. bukan sebagai teguran apalagi azab. karena yang paling diminta dari seorang hamba kepada Tuhannya adalah keridhoan Tuhan si hamba.

ibuku pernah berkata, jalan berliku yang kita lalui justru akan membuat kita semakin kuat. seperti arang yang menjadi berlian tentu melalui tekanan dan suhu yang tinggi.

aku sadar, waktuku untuk mempersiapkan penjemputan itu tidak banyak. karena penjemputan itu persiapannya tidak mudah dan tidak sedikit. aku harap aku cukup bisa bersabar untuk menahan dan memperbaiki diri sampai tiba waktunya untuk menjemput.

semoga saja aku selalu dikuatkan dan dimudahkan oleh Tuhanku dalam menempuh jalan berliku ini hingga akhirnya tiba saatnya untuk menjemput

sudah siapkah kita untuk menerima apa yang kita minta kepada Tuhan kita?

"berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku kabulkan" (Al-Quran)

"aku akan mengabulkan apa yang mereka (hamba-Ku) minta (dalam doa) jika mereka meminta kepada-Ku" (Al-baqarah : 186)

Allah telah menjamin bahwa Dia akan mengabulkan doa hamba-Nya. entah itu dikabulkan secara langsung, diganti dengan yang lebih baik, atau ditunda untuk dikabulkan. 

akan tetapi, pernahkah kita sebagai hamba-Nya untuk mempersiapkan diri kita menerima ijabah-Nya

apakah ketika kita meminta untuk dilancarkan rezeki, kita sudah berusaha menjemput rezeki-Nya?

apakah ketika kita meminta untuk diberikan pasangan yang soleh/solehah, kita sudah sesoleh yang diinginkan oleh Tuhan kita?

apakah ketika kita meminta untuk dimudahkan dalam suatu urusan, kita sudah berusaha semaksimal mungkin?

apakah ketika kita meminta untuk diberikan kesempatan kuliah di negeri orang, iman kita sudah kuat untuk hidup disana?

apakah kita sudah mempersiapkan diri kita untuk menerima apa yang kita minta kepada Tuhan?

karena Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya, hanya karena manusianya saja yang sering lalai dan dzalim terhadap dirinya sendiri

First stepping stone

Hari itu, aku berangkat dari rumah dengan kaki yang gemetar hebat. Baru pertama kali kurasakan betapa beratnya meninggalkan rumah dengan misi yang kubuat dan kutargetkan sendiri. Ya berat, bukan karena enggan meninggalkan rumah, tapi karena yang aku tuju tampak seperti kastil angker. Bukan karena begitu menyeramkannya tujuanku, tapi lebih ke introspeksi betapa kerdilnya aku dihadapan beliau.
Dalam perjalanan pun hatiku berdoa agar diberi kelancaran dalam berkata-kata agar tali silaturahmi dua keluarga ini bisa tersambung dengan baik. Seraya berujar : betapa nekatnya dirimu hei, punya apa kau sehingga dengan beraninya kau datang kesana. Otakku berpikir, ah kau begitu pecundang jika untuk hal sekecil ini saja kau buang nyalimu. Sudah berapa puluh kali kau menjuluki dirimu sendiri sebagai pecundang?
Aku masih ingat, beberapa hari yang lalu aku meminta pada Tuhanku agar hati ini dikuatkan dalam langkah pertama ini. Orang bilanh, yang pertama selalu yang paling berat. Toh, aku sudah membuktikannya dengan sampainya diriku di depan tempat itu. Dengan badan menggigil dan pikiran yang cemas bahkan sempat ingin pulang kembali aku bahkan tidak berani mengetuk pintu. Tapi lagi lagi, keinginan untuk membuanh kata pecundang dari diriku sudah begitu tinggi
Hasilnya? Aku anggap misiku di langkah pertama ini sukses. Selanjutnya tinggal memantaskan diriku di dalam proses jual beli ini. Ya aku akan menjual diriku untuk membeli sesuatu yang suatu saat nanti aku yakin akan mengisi setiap detik kehidupanku.
Semoga

5 hal hebat yang bisa diajarin bocah Indonesia buat seluruh dunia

huudalam:

Orang-orang yang merasa gede (badan, usia maupun ukuran itunya) sering ngerasa mereka yang harusnya ngajarin anak kecil ini itu biar bisa siap menjalani hidup. Padahal nggak sama sekali, kata penulis sekaligus kartunis Andrew Matthews dibuku super kerennya “Being Happy”, kitalah yang harus belajar banyak dari anak kecil. Mulai cara mereka total menjalani masa kini, ga capek mikirin masa depan, fokus sama apa yang mau mereka pelajari sampai rela 2 hari berturut-turut belajar salto biar bisa backflip. Poin terakhir gw ngarang.

Nah terus hal hebat apa yang bisa diajarin bocah Indonesia yang sampai dibicarain seluruh dunia?

Ini ada 5 poin yang mungkin kita bisa resapi :

Read More

"Perbedaan antara penulisan status di Socmed yang bertujuan untuk memberi informasi kegiatan yang dilakukan dengan yang bertujuan agar dipuji orang lain dan berakhir riya, sangatlah tipis, bahkan lebih tipis dari kulit martabak telur."

Bahkan lebih tipis dari celana dalam anak kecil yang KW thailand (via choqi-isyraqi)

"The rocket worked perfectly except for landing on the wrong planet"

Werhner von Braun, During the launch of V-2 rocket by nazi to destroy london

About

M Irfan Hilmy Yusuf, 22, Microbiology, ITB, interested in history, politics, strategies, has a dream to become a future leader and strategiest...

being a leader is not about ability, it's about responsibility
-the core